SEJARAH KELUARGA BESAR LABAI BURAHIM (NAYAN) DAN SARINA
Dari Desa Ipu Mea hingga Desa Janggi
Penulis: FATLI
Kepala Desa Janggi
Pendahuluan
Setiap keluarga memiliki sejarah yang menjadi akar kehidupan bagi generasi penerusnya. Sejarah keluarga besar Labai Burahim (Nayan) dan Sarina merupakan warisan berharga yang perlu dijaga dan diwariskan kepada anak cucu agar mereka mengenal asal-usul leluhurnya.
Kisah ini tidak hanya memuat silsilah keluarga, tetapi juga menceritakan perjuangan, keteguhan hidup, nilai-nilai adat, serta perjalanan panjang yang telah dilalui para leluhur hingga melahirkan keluarga besar yang kini tersebar di berbagai wilayah Kalimantan Tengah dan Indonesia.
BAB I
Kakek Datu Dunia
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh para tetua keluarga, Labai Burahim yang lebih dikenal dengan nama Nayan merupakan sosok yang sangat dihormati pada masanya. Beliau sering disebut sebagai “Kakek Datu Dunia”, sebuah gelar penghormatan yang diberikan karena kebijaksanaan, pengalaman hidup, serta perjalanan hidupnya yang luar biasa.
Nayan berasal dari suku Dayak Ngaju. Beliau hidup pada masa ketika masyarakat Dayak masih sangat bergantung kepada alam sebagai sumber kehidupan. Hutan, sungai, dan ladang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Beliau memiliki ciri fisik yang khas sebagaimana masyarakat Dayak terdahulu. Nayan memiliki telinga panjang atau lambeng yang menjadi tanda bahwa beliau berasal dari generasi lama yang masih memegang kuat tradisi leluhur. Pada paha kanan terdapat tato bergambar bintang dan bulan yang menurut cerita keluarga menjadi simbol keberanian dan semangat perjuangan yang melekat dalam dirinya.
BAB II
Kisah Perjuangan Melawan Penjajah
Menurut cerita para orang tua terdahulu, Nayan pernah terlibat dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda. Karena keberaniannya, beliau ditangkap dan dijadikan tawanan.
Dalam masa penahanan tersebut, beliau mengalami berbagai bentuk hukuman yang berat. Salah satu kisah yang masih diwariskan hingga sekarang menyebutkan bahwa tubuhnya pernah dicap menggunakan besi panas oleh penjajah sebagai bentuk hukuman dan intimidasi.
Cerita keluarga juga menyebutkan bahwa Nayan pernah dibuang ke Pulau Nusakambangan. Namun semangat hidupnya tidak pernah padam. Dengan keberanian dan kecerdikannya, beliau berhasil melarikan diri dari tempat pembuangan tersebut.
Dalam pelariannya, beliau menumpang sebuah kapal nelayan yang berlayar menuju Kalimantan. Perjalanan panjang yang penuh risiko itu akhirnya membawa beliau sampai ke Banjarmasin.
Kisah tersebut hingga kini masih dikenang oleh anak cucu sebagai bukti keteguhan hati dan keberanian seorang leluhur yang tidak pernah menyerah menghadapi kesulitan hidup.
BAB III
Sebelum Bertemu Sarina
Sebelum bertemu dengan Sarina, menurut cerita keluarga, Nayan pernah menikah dengan seorang perempuan yang berasal dari Tamiang Bajut, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Namun dari pernikahan tersebut tidak lahir keturunan.
Setelah perjalanan hidup yang panjang, takdir kemudian mempertemukan beliau dengan seorang perempuan Dayak Maanyan bernama Sarina, yang berasal dari Desa Ipu Mea, Kabupaten Barito Timur.
Pertemuan tersebut menjadi awal terbentuknya keluarga besar yang kemudian berkembang hingga saat ini.
BAB IV
Kehidupan Bersama Sarina
Setelah menikah, Nayan dan Sarina menjalani kehidupan rumah tangga yang sederhana namun penuh kebahagiaan.
Pada masa itu mereka menganut kepercayaan Kaharingan sebagaimana sebagian besar masyarakat Dayak. Seiring perkembangan zaman dan masuknya ajaran Islam ke wilayah Kalimantan Tengah, keluarga ini kemudian memeluk agama Islam.
Walaupun telah memeluk agama Islam, mereka tetap mempertahankan nilai-nilai luhur adat Dayak seperti gotong royong, menghormati orang tua, menjaga persaudaraan, serta hidup berdampingan secara damai.
Sarina dikenal sebagai perempuan yang sabar, pekerja keras, dan setia mendampingi suaminya dalam berbagai keadaan.
BAB V
Kehidupan dan Mata Pencaharia
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Nayan bekerja dalam berbagai bidang, antara lain:
- Nelayan pencari ikan di sungai.
- Petani ladang.
- Pekebun.
- Penyadap karet.
- Pemotong dan pencari rotan.
- Pembuat perahu tradisional.
Pengolah kayu untuk kebutuhan bangunan dan peralatan masyarakat.
Keahlian membuat perahu menjadikan beliau dikenal luas di kalangan masyarakat sekitar. Pada masa itu, perahu merupakan alat transportasi utama yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Sarina turut membantu keluarga dengan bekerja di ladang dan kebun, serta mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka.
BAB VI
Tiga Putri Pewaris Keluarga
1. Saripah (Anggi)
Saripah atau Anggi merupakan anak sulung yang dikenal cerdas dan rajin belajar. Pada masa ketika pendidikan masih sulit diperoleh, Saripah sempat bersekolah di Sekolah Rakyat (SR).
Berkat kecerdasannya, ia dikenal mampu berbahasa Belanda dan memahami bahasa Jepang. Kemampuan tersebut sangat langka pada masa itu sehingga Saripah menjadi salah satu perempuan yang dihormati masyarakat karena pengetahuan dan wawasannya.
Saripah menikah dengan Idai dan dikaruniai tujuh orang anak:
1. Becak
2. Diang Sama
3. Badrianyah
4. Dalui
5. Dani
6. Doleng
7. Entet
2. Halimah (Alima)
Putri kedua bernama Halimah atau Alima. Ia dikenal sebagai pribadi yang sabar, ramah, dan mudah bergaul dengan masyarakat.
Halimah menikah dengan Mursid dan memiliki tujuh orang anak:
1. Tinah
2. Gampulani
3. Mahyani
4. Siah
5. Abes
6. Karnadi
7. Arna
Sebagian besar keturunannya kini menetap di berbagai daerah.
3. Masnah
Masnah merupakan putri bungsu keluarga. Ia lahir ketika kedua orang tuanya telah memeluk agama Islam sehingga sejak lahir dibesarkan dalam lingkungan keluarga Muslim.
Masnah menikah dengan Midi (Idi) dan memiliki tujuh orang anak:
1. Isur
2. Sahayan
3. Rajini
4. Tini
5. Awau
6. Budin
7. Kadar
Banyak keturunan Masnah yang hingga kini masih menetap di Desa Janggi.
BAB VII
Perjalanan ke Desa Janggi
Seiring berjalannya waktu, ketiga putri Nayan dan Sarina membangun rumah tangga masing-masing dan menetap di Desa Janggi, Kecamatan Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan.
Dari desa inilah keturunan mereka berkembang menjadi keluarga besar yang dikenal hingga sekarang.
Keturunan Saripah dan Masnah banyak yang masih menetap di Desa Janggi, sedangkan sebagian keturunan Halimah telah berpindah ke berbagai daerah.
BAB VIII
Warisan untuk Anak Cucu
Labai Burahim (Nayan) dan Sarina telah mewariskan nilai-nilai kehidupan yang sangat berharga kepada generasi penerusnya, yaitu:
- Kerja keras.
- Kejujuran.
- Gotong royong.
- Menghormati orang tua.
- Menjaga persaudaraan.
- Menolong sesama.
- Menjaga adat dan budaya.
- Menjalankan ajaran agama dengan baik.
Kini anak, cucu, cicit, dan keturunan mereka telah berkembang menjadi keluarga besar yang tersebar di berbagai daerah. Namun satu hal yang tetap hidup adalah ikatan kekeluargaan dan kebanggaan sebagai keturunan Labai Burahim (Nayan) atau Kakek Datu Dunia dan Sarina.
Penutup
Perjalanan hidup Labai Burahim (Nayan) dan Sarina merupakan kisah perjuangan yang panjang. Dari kehidupan sederhana di Desa Ipu Mea hingga berkembang menjadi keluarga besar di Desa Janggi, mereka telah meninggalkan warisan yang tidak ternilai harganya.
Sejarah ini bukan sekadar catatan tentang silsilah keluarga, melainkan juga pengingat akan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur. Semangat kerja keras, keberanian, kejujuran, gotong royong, serta penghormatan terhadap adat dan agama menjadi bekal penting bagi generasi penerus dalam menghadapi perkembangan zaman.
Semoga sejarah keluarga besar ini dapat menjadi sumber inspirasi dan kebanggaan bagi seluruh keturunan, serta mempererat tali silaturahmi yang telah terjalin sejak masa Kakek Datu Dunia, Labai Burahim (Nayan), dan Sarina.
Desa Janggi, Tahun 2026
FATLI
Kepala Desa Janggi
“Leluhur dikenang, sejarah dijaga, persaudaraan dipelihara.”

